Personel Angkatan Laut Terus Melakukan Inspeksi Terhadap Kapal Asing Untuk Mengamankan Perairan Singapura Meskipun Ada Resiko Covid-19

SINGAPURA: di tengah-tengah resiko COVID-19, personel Angkatan Laut Singapura (Republic of Singapore Navy atau RSN) mengenakan alat pelindung diri tambahan untuk menaiki kapal pedagang yang melewati perairan Singapura.

Di daratan, personel dari Tim Pendamping Keamanan Kelautan (Accompanying Sea Security Teams atau ASSeT) dari skuadron 180 Angkatan Laut Singapura kini wajib mengenakan kacamata pelindung, masker wajah dan sarung tangan karet ketika menaiki kapal.

Tugas mereka adalah memastikan kapal-kapal tidak membawa teroris, penumpang gelap dan barang selundupan yang bisa mengancam keamanan Singapura, kata komandan skuadron 180 Mayor (MAJ) Brandon Choo pada hari Senin (18 Mei).

Pada saat berbicara dengan wartawan dalam sebuah konferensi video, Mayor Choo, berumur 38, mengatakan pasukannya mempertahankan jumlah menaiki kapal – hingga dua atau tiga kapal dalam sehari – sebagai aksi pencegahan terhadap potensi ancaman.

Industri kelautan Singapura menyumbangkan 7 persen dari total produk domestik bruto, dan ancaman perampokan laut pada wilayah tersebut tetap berlanjut.

Data dari pusat pembagian informasi kelautan menunjukkan perampok laut yang menaiki kapal yang berlayar di Selat Singapura ada pasa 12 insiden sejak Januari hingga April.

Ini merupakan peningkatan tiga kali lipat dari empat insiden pada periode yang sama tahun lalu, menurut angka dari Pusat Pembagian informasi Asia dari Perjanjian Kerja Sama Regional Terkait Pemberantasan Pembajak dan Perampokan Bersenjata Terhadap Kapal di Asia (Regional Cooperation Agreement on Combating Piracy and Armed Robbery against Ships in Asia Information Sharing Centre).

“Insiden perampokan laut terus terjadi, namun kita masih terus memastikan perampokan ini tidak mempengaruhi perdagangan laut kami,” katanya, seraya menyatakan bahwa musuhnya “tidak beristirahat” walaupun di tengah-tengah wabah.

“Kami juga menawarkan kepercayaan yang lebih besar kepada komunitas kelautan global untuk tetap beroperasi di perairan kami. Hal ini mendorong kesediaan mereka untuk datang ke Singapura dan beroperasi di pelabuhan kami untuk mengirimkan barang-barang keperluan kami, terutama pada saat ini.”

LANGKAH-LANGKAH PENCEGAHAN
Inilah mengapa ada kebutuhan untuk terus melakukan kegiatan memasuki kapal sambil melindungan operator Angkatan Laut Singapura selama pandemi COVID-19.

Personel-personel ini akan membawa kapal kecil dan memanjat melalui tangga untuk bisa naik ke kapal yang memasuki perairan Singapura.

Potensi terinfeksi COVID-19 saat terlibat dengan awak kapal asing yang ada pada kapal tersebut “tetap merupakan hal yang diperhatikan”, kata Mayor Choo.

Dia menambahkan awak kapal harus melengkapi deklarasi kesehatan dan mengindikasikan lima pelabuhan persinggahan mereka tidak “terpengaruh” oleh COVID-19, bahkan sebelum kapalnya dinaiki.

“Langkah-langkah tambahan ini memastikan kapal yang masuk telah melalui satu lapisan inspeksi sebelum squadro 180 melakukan operasi mereka,” katanya.

Pada saat menaiki kapal kecil, personel akan mengosongkan satu bangku di sampingnya sebagai langkah menjaga jarak aman. Berarti dua anggota harus duduk di kabin bagian dalam kapal, yang diperuntukkan bagi awak kapal dan biasanya kosong.

Ketika berada di atas kapal, personel wajib menjaga jarak aman dari awak kapal, dan karena mereka mengenakan masker, komunikasi dilakukan juga dengan menggunakan isyarat tangan. Biasanya memberi tahu ke mana awak kapal harus pergi.

Setelah selesai, personel harus membersihkan kapal kecil dan peralatan pribadi mereka, termasuk helm, rompi dan senjata.

“SAYA TENTUNYA MERASA LEBIH AMAN”
Operator ASSeT Prajurit (PTE) Nigel Lim, berumur 22, mengatakan memakai masker berarti harus berbicara lebih kuat dan menggunakan isyarat yang jelas.

“Karena kami tidak bisa menunjukkan wajah kami, kami harus belajar tersenyum dengan mata kami agar tidak terlihat menakutkan bagi awak kapal,” kata prajurit nasional penuh waktu tersebut.

Sebagian besar awak kapal sudah berkooperatif, kata dia, kecuali ada seorang yang merasa kesal karena kapalnya dinaiki.

Namun demikian, Prajurit Lim mengatakan perlengkapan tambahan diperlukan untuk meminimalkan resiko COVID-19, mengingat sarung tangan karet memberikan proteksi tambahan di luar sarung tangan biasanya.

“Saya tentu saja merasa lebih aman dengan peralatan-peralatan ini” ujarnya.

Kembali ke daratan, Prajurit Lim juga harus menghabiskan waktu berminggu-minggu di kamp dengan shift 24 jam, dibandingkan dengan situasi sebelum COVID-19 di mana ia bisa keluar setiap hari.

Namin ia merasa sepadan.

“Orang tua saya awalnya khawatir karena mereka takut tingkat paparannya akan sangat tinggi ketika menaiki kapal pedagang. Namun saya memastikan skuadron mengambil langkah pencegahan yang diperlukan,” tambahnya.

“Saya merasa kami sangat penting bagi keamanan jalur laut kami. Jadi dengan beroperasi setiap hari, kami memastikan kebutuhan penting seperti makanan dapat tiba di Singapura dengan selamat.”

Latest Magazine

Our Sponsors







Maritime Events

24 - 26 August 2021
Radisson Golf & Convention Centre, Indonesia