COVID-19 menyebabkan masalah pada pengiriman internasional

WOLLONGONG: Dampak krisis COVID-19 pada industri kapal pesiar menarik banyak perhatian dalam beberapa pekan terakhir.

Pandemi COVID-19, kemerosotan perdagangan global dan jatuhnya harga minyak saat ini memiliki dampak yang besar pada pengiriman internasional – dan tidak selalu seperti yang kami perkirakan, kata Sam Bateman.

Namun perlambatan ekonomi global yang terkait berarti dampak krisis pada bagian lain pengiriman internasional akan lebih parah.

Menurut data dari UNCTAD, kapal penumpang – termasuk kapal pesiar dan kapal feri – hanya menyumbangkan 0,4 persen dari total pengiriman internasional berdasarkan tonase bobot mati (DWT).

Kapal muatan curah merupakan komponen terbesar dengan nilai 42,6 persen, diikuti oleh kapal tanker minyak dengan nilai 28,7 persen, kapal kontainer dengan nilai 13,4 persen dan kapal jenis lainnya (termasuk kapal pengangkut bahan kimia dan gas) pada nilai 11,1 persen.

Kapal-kapal pengangkut kargo ini dipekerjakan secara berbeda-beda. Kapal kontainer umumnya bekerja dengan jadwal tetap, kapal tanker dengan kontrak jangka panjang, dan kapal muatan curah dengan kontrak pelayaran tunggal.

Kapal penumpang biasanya berukuran kecil sedangkan kapal tanker minyak dan kapal muatan curah bisa merupakan kapal yang sangat besar – lebih dari 300.000 DWT ataupun lebih. Namun kapal persiar yang sekarang sedang dibangun memiliki ukuran yang sebanding. Ada yang memiliki tonase bruto lebih dari 200.000 dan bisa membawa lebih dari 5.000 penumpang dengan 2.000 awak kapal.

Masih belum terlihat apakah kapal-kapal besar ini masih memiliki pekerjaan yang bermanfaat pada akhir krisis COVID-19.

MESIN PERTUMBUHAN
Perdagangan lintas laut dan pengiriman internasional terus menjadi mesin pertumbuhan ekonomi. Menurut UNCTAD, ekonomi dunia bertumbuh 2,3 persen dari tahun 2018 hingga tahun 2019 sedangkan perdagangan barang dagangan bertumbuh 3,1 persen dan perdagangan lintas laut internasional bertumbuh 2,7 persen.

Empat perlima dari perdagangan barang dagangan dunia dilakukan melalui laut.

Penurunan pertumbuhan perdagangan laut dari tahun 2018 ke tahun 2019 dibandingkan dengan pertumbuhan tahun sebelumnya sebesar 4,1 persen yang sebagian besarnya disebabkan oleh sedikit peningkatan pada perdagangan kapal tanker dalam setahun.

EFEK MENDALAM DARI COVID-19
Pandemi COVID-19, kemerosotan perdagangan global dan jatuhnya harga minyak saat ini memiliki dampak yang besar pada pengiriman internasional – dan tidak selalu seperti yang kami perkirakan.

Misalnya, permintaan kapal tanker melonjak karena negara-negara dan perusahaan minyak berusahan mengontrak kapal besar untuk digunakan sebagai fasilitas penyimpanan terapung.

Pengiriman kontainer dan pengangkut muat curah mengalami penurunan permintaan yang drastis. Operator kapal kontainer sedang membatalkan pelayaran untuk meminimalisir kerugian, sehingga mengikis keandalan pelayanan.

Lebih dari 10 persen armada kapal kontainer global sedang berlabuh karena jatuhnya pasar.

Permintaan pengiriman muatan curah kering juga mengalami penurunan karena pasokan komoditas yang terganggu dan masalah ekonomi di negara tujuan utama. Pada kuartal pertama tahun 2020, Baltic Dry Index – sebuah indikator utama permintaan pengiriman muatan curah – turun 43 persen dengan penyebaran COVID-19 yang cepat pada berbagai belahan dunia.

Kapal-kapal yang menganggur jika bukan dioperasikan dengan awak kapal minimum, ataupun dalam kasus kapal pengangkutan muatan curah, berlayar dengan seluruh awak kapal sambil menunggu kontrak lain. Hal ini membuat mereka terekspos pada resiko perampokan bersenjata.

PELAUT YANG TERDAMPAR
Penurunan pengiriman internasional, bersamaan dengan pembatasan perjalanan internasional pada saat ini, memiliki dampak yang serius pada pelaut. Setiap bulan sekitar 100.000 pelaut dirotasi bertugas di seluruh dunia. Pertukaran awak-awak kapal ini sangat tidak memungkinkan dalam keadaan saat ini.

Ribuan pelaut kini terdampar di atas kapal untuk periode yang jauh di luar kontrak mereka, yang mungkin akan bertahan hingga sembilan bulan atau bahkan satu tahun.

Pelaut dengan kontrak yang sudah kadarluwarsa sangat menantikan untuk pulang, namun mereka mungkin tidak bisa mendapatkan kontrak baru. Hal ini akan berdampak pada banyak negara yang sedang berkembang.

Khususnya di Filipina, upah sekitar 400.000 orang yang bertugas di laut, ada juga yang berposisi senior, merupakan sumber pendapatan negara yang penting – pada tahun 2018 pekerja-pekerja ini mengirimkan uang sebesar 6 miliar Dolar Amerika ke rumah dalam bentuk pengiriman valuta asing.

Kapal pesiar kini digunakan untuk membawa para pelaut pulang ke negara asalnya, kebanyakan warga Indonesia dan Filipina. Lebih dari 20 kapal pesiar kini telah berlabuh di Teluk Manila sambil menunggu persetujuan untuk mendaratkan lebih dari 5.600 pelaut asal Filipina ke rumah mereka.

PEMBAJAKAN DAN PERAMPOKAN BERSENJATA MUNGKIN AKAN MENINGKAT
Pasar pengiriman yang semakin tertekan mungkin juga akan menyebabkan peningkatan pembajakan dan perampokan bersenjata terhadap kapal-kapal. Krisis keuangan global merupakan faktor yang signifikan dalam meningkatnya pembajakan dan perampokan bersenjata baik di Somalia maupun di Asia Tenggara.

Banyak kapal yang menganggur dibiarkan diam di tengah laut di daerah beresiko tinggi – khususnya di Asia Tenggara, kapal yang berlabuh dengan pengurangan awak kapal, lebih rentan terhadap penyergapan.

Situasi ini mungkin akan berkembang. Menurut laporan dari Perjanjian Kerja Sama Regional Mengenai Pemberantasan Pembajakan dan Perampokan Bersenjata Terhadap Kapal-Kapal di Asia (Regional Cooperation Agreement on Combating Piracy and Armed Robbery agains Ships in Asia) pada kuartal pertama tahun 2020 mencatat peningkatan tiga kali lipat pada angka total insiden dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2019.

Enam belas dari insiden-insiden tersebut – 55 persen dari total – terjadi saat kapal sedang berlabuh atau sedang berada di samping dermaga. Hal ini menunjukkan bahwa banyak kapal yang sedang menganggur ataupun lebih banyak menghabiskan waktu di pelabuhan.

Berbeda dengan krisis keuangan global yang pulih dengan cepat, COVID-19 cenderung memiliki dampak yang berkelanjutan terhadap pengiriman.

Industri kapal pesiar mungkin tidak akan kembali pada perkembangan yang telah dialaminya beberapa tahun terakhir. Kontrol atas kontrak dengan pelaut dan kewajiban atas repatriasi akan menjadi lebih ketat, menyebabkan peningkatan biaya bai pemilik kapal.

Pemilik kapal juga akan tergoda untuk mengurani biaya dengan mempekerjakan awak kapal yang lebih murah, mengurangi jumlah awak kapal dan menurunkan standar perawatan kapal. Hal-hal ini bisa meningkatkan resiko terjadinya kecelakan di laut, termasuk tabrakan dan kehilangan kapal, serta meningkatkan resiko pencemaran laut dan kerentanan terhadap pembajakan.

Pelaut yang kurang dibayar dan bekerja terlalu banyak cenderung tidak kondusif terhadap keselamatan dan keamanan maritim.

Sam Bateman adalah Profesor Rekan Peneliti dari Australian National Centre for Ocean Resources and Security (ANCORS) di The University of Wollongong.

Latest Magazine

Our Sponsors







Maritime Events

24 - 26 August 2021
Radisson Golf & Convention Centre, Indonesia