Pengangkutan laut berkurang karena pandemi menghajar ritel

Pengangkutan laut berkurang karena pandemi menghajar ritel

LONDON/LOS ANGELES/MADRID: Industri pengiriman peti kemas senilai 1 triliun Dolar Amerika berada dalam perlambatan. Secara harfiah.

Beberapa perusahaan pelayaran, yang pelanggan ritelnya dihantam oleh pandemi virus corona, sedang mengurangi kecepatan pelayaran dan mengambil rute yang lebih jauh melalui Afrika, menghindari biaya perjalanan di terusan Suez, menurut perusahaan dan spesialis pelacakan kapal.

Banyak yang juga mengurangi jumlah pelayaran dan memberikan jasa penyimpanan jangka pendek untuk pelanggannya di industri, termasuk juga perusahaan besar seperti Maersk, MSC dan Hapag-Lloyd, juga menghadapi kemerosotan terbesarnya sejak krisis keuangan di tahun 2008.

Taktik baru tidak hanya menghemat biaya, namun juga membantu beradaptasi kepada ritel yang sedang kekurangan dana – di antara pelanggan terbesarnya – yang terjebak dengan inventori yang banyak dikarenakan penutupan toko akibat COVID-19 dan menurunnya permintaan pelanggan.

Waktu pengiriman yang lebih lambat juga berarti importir dapat menunda pembayaran yang dilakukan pada pengiriman.

Dari pembuatan pakaian olahraga Puma hingga raksasa mal Gap, banyak pengusaha ritel yang dipaksa untuk mengurangi atau memperlambat pengiriman barang baru. Kerusuhan sipil di Amerika Serikat telah memperburuk masalah mereka dengan lebih lanjut mengaburkan prospek pemulihan pasaran penjualan ritel terbesar di dunia.

Direktur Utama Puma Bjorn Gulden, sebagai contohnya, mengatakan bahwa pihaknya mengelola kelebihan inventarisnya dengan menyimpannya di kapal-kapal yang bergerak lambat seiring menunggu toko-toko di Amerika Serikat dan Eropa dibuka kembali.

Namun, pada waktu yang bersamaan, perlambatan pengiriman telah mmbuat bagi para pengusaha ritel merasa sakit kepala, dari Walmart dan Amazon hingga penjual sepatu Rothy’s, yang tidak pernah berhenti menjual produk kepada pelanggan yang terikat di rumah, dari produk-produk buku hingga peralatan olahraga, kebanyakannya dijual secara daring.

Kini para pengusaha ritel memperebutkan ruang pada kapal yang bergerak cepat di laut lepas, di mana jumlahnya lebih sedikit

“Apa yang kita lihat adalah situasi yang bercampur aduk dari pemilik kargo, ada yang tetap mengirimkan kargo mereka seperti biasa, ada juga yang meminta agar dikirimkan melalui jalur yang lebih jauh,” kata Marcus Leaver, direktur operasional perusahaan angkutan laut Hellmann Worldwide Logistic, yang mengatur pengiriman untuk perusahaan ritel.

Kurangnya ruang pada kapal menyebabkan lebih banyak “perpanjangan kontrak”, di mana peti kemas dipindah dari kapal yang di kemas ke kapal lain, seperti penumpang pesawat pada penerbangan yang terjual lebih, menurut pandangan para importir.

Pengusaha ritel asal Spanyal Mango, tetap berjualan secara daring selama pandemi, mengatakan kepada Reuters bahwa mereka melihat adanya peningkatan pembatalan pengiriman oleh perusahaan pengiriman, yang disebabkan oleh ketidak stabilan dan “masalah ruang”.

Ia juga menambahkan 99 persen dari angka impor nya yang berasal dari Asia kini dikirimkan melalui laut karena biaya pengiriman udara telah meningkat karena kurangnya jumlah penerbangan dan prioritasnya diberikan untuk peralatan medis.

'BANYAK MASALAH'
Taruhannya tinggi bagi industri peti kemas. Barang ritel seperti pakaian, koper dan furnitur mewakili sekitar 15 persen dari angka pengiriman, seperti ditunjukkan oleh data analisa industri oleh Reuters.

Soren Skou, Direktur Utama Maersk, grup pengiriman peti kemas terbesar di dunia, mengatakan banyak dari pelanggannya merupakan pengusaha ritel dan pemasok bagi pengusaha ritel.

“Ada banyak pengusaha ritel tradisional yang berada dalam masalah, dan seperti yang anda ketahui, ada yang sudah bangkrut,” ungkap Skou pada bulan lalu. “Beberapa pelanggan meminta kami untuk memperlambat pengiriman dan kami juga telah menemukan fasilitas penyimpanan barang dan pergudangan untuk mereka.”

Shereen Zarkani, kepala bagian penjualan global Maersk, mengatakan kepada Reuters:” Salah satu pelanggan mengatakan kepada kami: Jika anda bisa membuat peti kemas saya mengelilingi dunia beberapa kali itu akan sangat baik.”

Jumlah pakaian yang tiba di Amerika Serikat melalui kapal menurun hampir 20 persen pada periode Januari – Mei dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu, dan mencapai 379.910 TEUs (unit peti kemas 20 kaki), ditunjukkan oleh data dari perusahaan teknologi logistik Descartes.

Angka furnitur menurun lebih dari 12 persen pada periode yang sama, sementara koper menurun lebih dari 34 persen.

Pukulan pertama didaratkan saat virus novel corona memaksa Tiongkok untuk menutup pabrik-pabriknya pada bulan Februari, menghentikan pasokan pakaian, elektronik dan barang ritel lainnya ke dunia.

Pukulan kedua ketika toko-toko di Eropa dan Amerika Serikat ditutup, sehingga perusahaan terkemuka seperti pemilik Topshop Arcadia Group, Gap dan pengusaha ritel barang diskon Marshalls dan TJ Maxx untuk membatalkan pesanan.

“Ketika anda melihat perdagangan Timur-Barat kita melihat angka 15 persen hingga 20 persen (diambil) dari seluruh industri,” kata Rolf Habben Jansen, Direktur Utama Hapag-Lloyd di Jerman, pada saat menunjukkan penurunan kapasitas pada beberapa minggu terakhir.

PROSPEK: PENUH TANTANGAN
Tampaknya tidak ada kelambatan bagi perusahaan pengiriman peti kemas karena pelanggan ritel mereka masih merasakan kesulitan keuangan yang parah di bulan Juli, ketika mereka mulai melakukan pesanan untuk barang dagangan liburan dan musim dingin.

Jay Foreman, Direktur Utama pemasok mainan di Florida Basic Fun, yang menjual kepada pengusaha ritel seperti Walmart dan Target Corp, mengatakan bahwa ia memperkirakan penurunan 20 persen pada usahanya tahun ini.

Memang, prospek ritel suram: Euromonitor memperkirakan penjualan ritel Amerika Serikat akan menurun lebih dari 6 persen tahun ini.

James Conroy, Direktur Utama perusahaan pakaian di California Boot Barn Holdings, mengatakan kepada analis bahwa dia menghadapi “beberapa angin haluan”.

“Angka pengangguran yang tinggi, harga minyak yang sangat tertekan dan pergeseran ke belanja daring akan menghadirkan tantangan bagi kami saat kami bergerak maju dalam 6 hingga 12 bulan ke depan,” katanya.

Latest Magazine

Our Sponsors







Maritime Events

24 - 26 August 2021
Radisson Golf & Convention Centre, Indonesia