Pelabuhan-pelabuhan dan kapal-kapal Singapura membalikkan keadaan perubahan iklim

Jeda dalam aktivitas pengiriman, yang dipicu oleh krisis COVID-19, memberikan peluang bagi industri kelautan untuk menggandakan upaya dekarbonisasi, kata Dr Sanjay Kuttan, Direktur Eksekutif Lembaga Kelautan Singapura (Singapore Maritime Institute).

SINGAPURA: Dua pelabuhan utama Singapura, yaitu PSA Container & Pelabuhan Jurong, merupakan laboratorium yang langsung untuk teknologi ramah lingkungan.

Pelabuhan Jurong membanggakan sistem fotovoltaik tenaga surya dengan tenaga puncak 9.65 megawatt. Dipasang di atap-atap gudang, ia merupakan instalasi tenaga surya terbesar di sebuah pelabuhan. Sebagian dari tenaga listrik yang dihasilkan digunakan untuk operasional pelabuhan, sementara sisanya disalurkan ke jaringan listrik nasional.

Pelabuhan tersebut juga sedang menguji Sistem Multi-Energi Cerdas (Smart Multi-Energy System) yang digerakkan oleh kecerdasan buatan (AI), termasuk sistem arus listrik searah mikrogrid untuk gudang, yang akan mengirangi jejak karbonnya.

Pelabuhan Jurong juga merupakan pelabuhan ramah lingkungan pertama di dunia – terbuat dari beton daur ulang dari dermaga dan perkarangan yang tidak digunakan lagi.

Selain itu, PSA juga telah mulai mengelektrifikasikan serta mengotomatiskan derek dan kendaraan daratnya. Setelah selesai, operator pelabuhan tersebut akan akan memiliki armada kendaraan terpadu otomatis terbesar di dunia yang ditenagai oleh baterai, dan bukan diesel.

Krisis COVID-19 telah menyebabkan jeda pada aktivitas pengiriman, sehingga memberikan peluang kepada sektor kelautan untuk menmpercepat upaya dekarbonisasi serta membangun rantai pasokan yang lebih ramah lingkungan.

Secara global, sektor kelautan menyumbangkan 2 hingga 3 persen emisi gas rumah kaca. Menyadari dampaknya yang signifikan terhadap lingkungan, Organisasi Kelautan Internasional (International Maritime Organization / IMO) telah merubah target pengurangan gas rumah kaca: 40 persen pada tahun 2030 dan 50 persen pada tahun 2050 dari tingkatan di tahun 2008.

KAPAL PELABUHAN RAMAH LINGKUNGAN
Selama dekade terakhir, sektor kelautan global terus melakukan upaya untuk mengurangi jejak karbon yang dihasilkan oleh kapal. Kapal baru wajib mematuhi Indeks Desain Efisiensi Energi (Energy Efficiency Design Index) dari IMO – seperangkat peraturan untuk merancang dan membuat kapal dengan efisiensi energi yang maksimal sejak tahun 2011.

IMO juga menerapkan Program Manajemen Efisiensi Energi Kapal (Ship Energy Efficiency Management Programme) pada tahun yang sama, yang menyediakan kerangka kerja untuk mengoperasikan kapal dan armada untuk meningkatkan efisiensi energi. Program ini mengembangkan pedoman untuk menurunkan konsumsi energi seminimal mungkin untuk setiap jenis kapal.

Prinsip efisiensi energi ini juga bisa diterapkan pada 2,300 kapal pelabuhan terdaftar di Singapura yang menyediakan barang dan jasa bagai kapal-kapal yang singgah di pelabuhan.

Tujuh dari 10 kapal pelabuhan bertenaga mesin, dari kapal feri, kapal tunda, bunker, hingga kapal peluncur. Sebagian besar, ataupun semua, ditenagai oleh solar, berkontribusi pada jejak karbon nasional.

Peluang untuk dekarbonisasi kapal-kapal ini melalui elektrifikasi atau penggunaan bahan bakar nabati sangat signifikan. Lingkungan kelautan lokal juga akan mendapat manfaat dari pengurangan polusi udara dan suara.

Orotitas Kelautan dan Pelabuhan Singapura (The Maritime and Port Authority of Singapore / MPA) juga telah bekerjan untuk mengembangkan kapal tunda bertenaga gas alam cair (Liquig Natural Gas / LNG), yang kini telah beroperasional dan berkontribusi terhadap upaya dekarbonisasi sektor tersebut.

LNG diterima secara umum karena memiliki jejak karbon yang lebih rendah dibandingkan dengan solar. Kini ada kurang dari tigal kapal yang beroperasi namun dengan desain hibrida yang lebih baik dalam mengurangi biaya dan mengoptimalkan performa, dan banyak lagi yang bisa diharapkan.

Bahan bakar nabari sebagai bahan bakar tambahan (dicampur dengan bahan bakar biasa), dapat lebih lanjut mengurangi jejak karbon. Namun, bekerja sama dengan pabrik peralatan orisinil dan operator kapal merupakan kunci untuk menjaga jaminan dan keandalan operasional.

Ada banyak peluang penilitian dan pengambangan terkait kapal pelauhan: optimasi sistem tenaga, teknologi baterai atau sel bahan bakar baru, pencetkaan 3D untuk baling-baling yang lebih ringan dan lebih kuat, dan sebagainya.

Galangan domestik sedang bergerak menuju arah ini. Pada awal tahun ini, BH Global, perancang dan integrator sistem tenaga, dan Penguin, sebuah perusahaan pembuat kapal, mengumumkan konsorsium mitra untuk membuat kapal peluncur cepat bertenaga listrik hibrida pertama di Singapura.

Pada tahun 2018, sebuah perusahaan pengapalan Norwegia Norled memesan tiga kapal feri pesisir dengan tenaga hibrida (yang dapat menggunakan pengisian daya berbasis pantai) dari perusahaan pembuat kapal Singapura, Sembcorp Marine.

BAHAN BAKAR BUNKER YANG LEBIH RAMAH LINGKUNGAN
Singapura, salah satu pelabuhan tersibuk di dunia dengan 1,000 kapal yang berlabuh setiap hari, merupakan pusat pengisian bahan bakar utama. Ia mengirimkan sekitar 48 juta ton bahan bakar, di mana sebagian besarnya merupakan bahan bakar berkualitas rendah pada tahun 2019 – hampir setengah dari permintaan global.

Melihat ke masa depan, Singapura perlu beralih dari bahan bakar intensif karbon untuk melanjutkan upaya dekarbonisasi di seluruh sektor. Selain LNG, bahan bakar baru yang ada termasuk bahan bakar nabati, metanol, amonia cair dan hidrogen cair.

Ada sejumlah proyek bahan bakar alternatif dan demonstrasi di seluruh dunia. Ini memverifikasikan kinerja bahan bakar tergantung peran kapal, kinerja mesin dan mitigasi karbon merupakan kriteria lainnya.

Berurusan dengan portofolio bahan bakar baru ini memerlukan pertimbangan pada faktor-faktor baru.

Sumber produk, verifikasi status "ramah lingkungan", standar keselamatan untuk penyimpanan dan penanganan, dan lain-lain bukanlah pertimbangan sepele jika Singapura berusaha menjadi pusat pengisian bahan bakar ramah lingkungan global, dan juga menghindari infrastruktur pengisian bahan bakar yang telah diinvestasikan menjadi aset terbengkalai.

PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PENTING UNTUK MASA DEPAN YANG BERKELANJUTAN
Ada banyak peneliti yang berbakat di Singapura yang berlokasi di berbagai universitas, politeknik dan institut penelitian. Namun, sifat kompetitif untuk penghargaan hibah tidak mendorong kolaborasi di antara tim yang akan lebih menguntungkan negara.

Kami butuh indikasi kinerja utama yang lebih baik untuk mendorong kreasi bersama dan kolaborasi penelitian di antara institut penelitian kami untuk menghindari penggunaan dana terbatas yang kurang optimal.

Kami juga membutuhkan peneliti kewirausahaan untuk menerjemahkan teknologi dari sektor lain ke sektor kelautan.

Misalnya, memasukan penangkapan karbon dan pemanfaatannya di atas kapal merupakan proposisi yang menarik karena memungkinkan kami untuk terus menggunakan bahan bakar pada saat ini, meskipun dengan tantangan penelitian dan pengembangan yang berat, namun bukanlah yang tidak dapat diatasi.

Kegagalan mesin di atas laut bisa menjadi bencana besar, sehingga potensi pembuatan bahan tambahan untuk suku cadang pengganti di atas kapal merupakan bagian penting dalam melestarikan masa hidup, properti dan lingkungan.

Semua invoasi ini bersatu tidak hanya untuk mengurangi jejak karbon, namun juga mengurangi biaya operasional, sekaligus meningkatkan produktivitas dan keselamatan.

DIBUTUHKAN KEPEMIMPINAN YANG BERANI DAN PERUBAHAN POLA PIKIR
Dekarbonisasi industri kelautan akan membutuhkan kepemimpinan yang berani yang perubahan pola pikir.

Singapura juga berinvestasi dan berinovasi untuk masa depan yang berkelanjutan. MPA dan mitra-mitranya telah menyisihkan 40 juta Dolar Singapura di bawah Maritime GreenFuture Fund untuk penelitian, pengujian dan adopsi teknologi rendah karbon.

Ini akan berkontribusi terhadap menciptakan dan memungkinkan adopsi bahan bakar ramah lingkungan, elektrifikasi, dan solusi ekonomi sirkular.

Selain itu, pertumbuhan minat investasi dari pemodal ventura seperti Rainmaking dan NTU's EcoLabs Program sangat bermanfaat bagi para inovator kelautan dan perusahaan startup dalam mencapai tujuan dekarbonisasi.

Sebagaimana dikatakan oleh Perdana Menteri Lee Hsien Loong pada rapat umum Hari Nasional tahun 2019, perubahan iklim merupakan masalah eksistensi bagi kita semua. Dekarbonisasi sektor pengapalan merupakan kunci bagi Singapura untuk mempertahankan kepemimpinan kelautan globalnya dan menjaga agar perekonomian Singapura memakmurkan semua.

Penulis Dr Sanjay C Kuttan adalah Direktur Eksekutif Institut Kelautan Singapura dan pandangan yang dikemukakan di sini tidak serta merta mewakili pandangan Maritime Voice Indonesia.

Latest Magazine




Our Sponsors







Maritime Events

3 - 5 August 2021
Radisson Golf & Convention Centre, Indonesia